Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 18 Maret 2012

AKSI MASSA


 
AKSI MASSA
PBNU Imbau Mahasiswa Tidak Anarkis 

Sabtu, 17 Maret 2012

                 JAKARTA (Suara Karya): Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Slamat Effendy Yusuf berharap para mahasiswa yang melakukan demonstrasi menolak harga BBM harus tetap berpegang pada etika dengan tidak merusak, anarkis dan sebagainya. Demo itu kalau bisa secara besar-besaran bersama rakyat.
               Sebaliknya, aparat kepolisian juga tidak boleh sewenang-wenang melakukan pemukulan, menendang, menginjak-injak dengan menyerang mereka ke dalam kampus, gedung organisasi, dan apalagi sampai masuk masjid tanpa melepas sepatu. Mereka itu bukan pemberontak.
"Biarkan mahasiswa itu demo. Tidak usah takut. Kan, mereka bukan pemberontak. Saya yakin demo mahasiswa itu untuk menyampaikan aspirasi dari hati nurani yang munri. Mereka ini mayoritas adalah anak-anak orang daerah yang tahu persis akan implikasi dan dampak dari kenaikan harga BBM itu akan menyulitkan rakyat," kata Slamet pada wartawan di Gedung DPR RI Jakarta, Jumat (16/3).
Yang harus digarisbawahi lanjut Slamet, demo itu untuk menyampaikan aspirasi menolak kenaikan harga BBM. Selain berorasi, menuliskan pada spanduk-spanduk, bendera, stiker dan kalau bisa bersama rakyat sebanyak-banykanya, dengan catatan jangan sampai anarkis dan melakukan kekerasan. "Jadi, demo itu harus kuat pada pesannya, yaitu menolak kenaikan harga BBM," ujar Ketua MUI Pusat ini.
Sejauh itu menurut mantan Ketua Umum DPP GP Ansor ini, demo itu jangan dianggap makar. Itu berlebihan. Yang terpenting, pemerintah harus mendengarkan aspirasi rakyat untuk mencari solusi dengan alasan tidak hanya untuk menyelamatkan APBN. Kalau untuk APBN terus mengorbankan penderitaan rakyat, itu tidak perlu.
"Apapun alasannya kenaikan BBM ini akan berdampak luas bagi rakyat. Selain mencari solusi lain, kalau bisa kenaikan BBM ini dilakukan secara bertahap," tambah Slamet.
Yang pasti dengan demo yang makin besar-massif menolak kenaikan harga BBM tersebut menurut Slamet, kedua belah pihak, baik mahasiswa dan aparat kepolisian harus sama-sama menjunjung tinggi etika demo dan etika pengamanan. "Mahasiswa tidak anarkis, dan aparat juga tidak represif, tapi coba melakukan pendekatan secara pesuasif. Toh, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah," tutur Slamet lagi.(Rully)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar